Dina Mengajari Temannya
Setahun setelah api kecilnya menyala, sahabat Dina meminta diajari coding. Dari satu penjelasan sederhana, lahirlah riak yang terus meluas.
Suatu sore, ponsel Dina berbunyi. Rani, sahabatnya, mengirim pesan: “Din, ajarin aku coding dong. Aku belum paham apa-apa.” Dina tersenyum. Setahun lalu, ia berada di posisi yang sama persis.
Ia teringat hari pertamanya: laptop di pangkuan, error pertama, dan api kecil yang akhirnya menyala. Semua bermula dari satu langkah kecil. Kini giliran Dina menemani langkah orang lain.
Dina tidak langsung membuat Rani mengerti semuanya. Ia mulai dari yang paling sederhana: kode, lalu hasil. Satu gambar di papan tulis, satu contoh kecil. Cukup.
Lalu Rani bertemu error pertamanya dan wajahnya mulai bingung. Dina menahan diri untuk tidak langsung memberi jawaban. Ia bertanya pelan, “Menurutmu, bagian mana yang terasa aneh?”
Mata Rani membesar. “Oh! Ini kurang titik koma!” Ia menemukannya sendiri! Dina menyadari sesuatu: rasa bangga melihat orang lain berhasil ternyata lebih hangat daripada keberhasilannya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Rani menjelaskan hal yang sama kepada temannya. Temannya menjelaskan lagi kepada temannya yang lain. Satu penjelasan kecil menjadi riak yang terus meluas.
Mereka mulai belajar bersama setiap Sabtu. Ada yang bertanya, ada yang menjawab, ada yang hanya tertawa. Kelas kecil itu tidak punya papan nilai, tetapi penuh saling dukung.
Dina akhirnya paham: ilmu yang dibagikan tidak berkurang. Ia justru tumbuh berlipat, seperti benih kecil yang menjadi pohon rindang tempat banyak orang berteduh.
Mungkin kamu juga punya satu hal yang sudah kamu kuasai. Bagikanlah kepada seseorang hari ini. Siapa tahu, kamu sedang menyalakan api di hati orang lain.
Setiap orang punya satu hari pertama.
Hari pertamamu bisa dimulai hari ini. Cukup satu langkah kecil, sisanya akan menyusul.